Alat Cath Lab RSUZA Rusak, Antrean Pasien Jantung Makin Panjang, Ada yang Meninggal Saat Dirujuk ke Medan

Foto ilustrasi layanan Laboratorium Kateterisasi (Cath Lab) di salah satu rumah sakit di Indonesia. (Sumber: https://rumahsakit.unair.ac.id)

ACEHTIME.com | BANDA ACEH – Peralatan kateterisasi jantung di Catheterization Laboratory (Cath Lab) RSUDZA Banda Aceh dilaporkan rusak sejak pertengahan Maret 2022. Dampaknya sangat serius, antrean pasien jantung makin panjang, bahkan ada pasien yang meninggal ketika dirujuk ke Medan.

Sejumlah keluarga pasien kepada media ini mempertanyakan tentang ketidakjelasan jadwal penanganan dan tindakan terhadap anggota keluarga mereka yang terindikasi penyumbatan pembuluh jantung sehingga harus dilakukan tindakan pemasangan ring pembuluh jantung.

“Dokter jantung yang menangani ibu saya mengatakan belum bisa dilakukan tindakan karena peralatan cath lab sedang rusak. Belum bisa dipastikan kapan bisa berfungsi kembali,” kata Suwarni dari Meulaboh yang mendampingi ibunya untuk penanganan kasus jantung di RSUZA Banda Aceh.

Untuk mendapatkan penjelasan apa sebenarnya yang terjadi, media ini sudah mengirimkan permintaan konfirmasi secara tertulis kepada Direktur RSUDZA Banda Aceh, dr. Isra Firmansyah. Namun, hingga berita ini ditulis, belum mendapatkan tanggapan.

Sumber-sumber di RSUDZA Banda Aceh mengungkapkan alat cath lab tersebut rusak sejak pertengahan Maret 2022.

“Alat yang rusak itu seperti hard disk yang berfungsi untuk penyimpanan gambar,” kata sumber yang minta namanya tidak dipublikasikan.

“Semangat saya untuk mengatakan ini semata-mata karena kasihan terhadap pasien jantung yang antreannya semakin panjang,” lanjut sumber tersebut.

Menurutnya, dalam kondisi alat berfungsi saja antrean pasien jantung bisa mencapai 3-6 bulan untuk dilakukan tindakan kateterisasi jantung. “Bisa dibayangkan sudah berapa banyak antrean pasien setelah hampir dua bulan tak ada penanganan diakibatkan kerusakan alat,” ujar sumber itu lagi.

Pada bulan April lalu, katanya, ada dua pasien jantung dirujuk oleh RSUDZA ke Medan. Tetapi satu pasien meninggal dalam perjalanan dan satu pasien lainnya meninggal ketika sedang dalam penanganan medis di Medan.

Kendala kontrak servis

Sumber lainnya mengungkapkan, sebenarnya alat cath lab beserta tim teknisi sudah ready di Medan atau Jakarta.

Akan tetapi terkendala eksekusi karena ketiadaan anggaran kontrak servis (pembayaran maintanance alat).

Sepengetahuan sumber itu, kontrak servis alat dibuat per tahun dengan asumsi maintanance alat kateterisasi jantung sekitar Rp 1 miliar untuk servis dan pergantian alat yang rusak.

Akan tetapi untuk tahun 2022 tidak dibuatkan kontrak servis alat kateterisasi jantung RSUDZA yang usianya sudah mencapai 10 tahun lebih namun masih digunakan sampai sekarang.

RSUDZA Banda Aceh sebenarnya memiliki satu unit alat kateterisasi baru namun alat tersebut merupakan kerja sama antara RSUDZA dengan perusahaan alkes yang berpusat di Medan.

“Menurut info yang saya dapat alat kateterisasi baru itu belum bisa digunakan karena belum keluar izin pengoperasian dari Bapeten, yaitu Badan yang menangani radiasi di Indonesia,” pungkas sumber yang minta namanya juga tidak ditulis.[]