Pimpinan RSUZA Tanggapi Kerusakan Alat Cath Lab, “Jumat Ini Sudah Kita Terima”

Rahmadi

ACEHTIME.com | BANDA ACEH – Laporan kerusakan alat kateterisasi jantung di Catheterization Laboratory (Cath Lab) RSUDZA Banda Aceh ditanggapi oleh pimpinan rumah sakit milik Pemerintah Aceh tersebut.

“Ya (memang ada kerusakan), tetapi kita sudah memesan bagian alat cath lab yang rusak itu. Insya Allah akan kita terima hari Jumat ini,” kata Direktur RSUDZA Banda Aceh, dr. Isra Firmansyah melalui penjelasan tertulis yang disampaikan oleh Kasubbag Informasi, Komunikasi dan Kerjasama RSUDZA, Rahmadi kepada ACEHTIME.com, Senin malam, 30 Mei 2022.

Sejak alat itu rusak, manajemen RSUDZA terus menempuh berbagai upaya untuk memesan bagian dari alat cath lab yang rusak.

“informasi dari pihak rekanan barang itu sekarang sudah di Indonesia (di bea cukai). Pemasangannya butuh waktu satu hingga dua hari jika barang sudah sampai ke RSUDZA.”

Mengenai laporan kendala anggaran, pimpinan RSUDZA membantah laporan itu. “Tak ada kendala anggaran. Anggarannya tersedia tapi tidak dilakukan dalam bentuk kontrak service, karena pihak perusahaan (rekanan) akan melakukan perbaikan sesuai kebutuhan dan permasalahan di alat cath lab tersebut.

“Jadi pada dasarnya tidak ada kendala yang berkaitan dengan anggaran. Kita berharap kondisi alat cath lab ini secepatnya bisa normal dan bisa dimanfaatkan kembali sehingga saudara-saudara kita yang membutuhkan secepatnya bisa ditangani,” demikian penjelasan pihak RSUDZA.

Seperti diberitakan sebelumnya, peralatan kateterisasi jantung di Catheterization Laboratory (Cath Lab) RSUDZA Banda Aceh dilaporkan rusak sejak pertengahan Maret 2022. Dampaknya sangat serius, antrean pasien jantung makin panjang, bahkan ada pasien yang meninggal ketika dirujuk ke Medan.

Sejumlah keluarga pasien kepada media ini mempertanyakan tentang ketidakjelasan jadwal penanganan dan tindakan terhadap anggota keluarga mereka yang terindikasi penyumbatan pembuluh jantung sehingga harus dilakukan tindakan pemasangan ring pembuluh jantung.

“Dokter jantung yang menangani ibu saya mengatakan belum bisa dilakukan tindakan karena peralatan cath lab sedang rusak. Belum bisa dipastikan kapan bisa berfungsi kembali,” kata Suwarni dari Meulaboh yang mendampingi ibunya untuk penanganan kasus jantung di RSUZA Banda Aceh.

Sumber-sumber di RSUDZA Banda Aceh mengungkapkan alat cath lab tersebut rusak sejak pertengahan Maret 2022.

“Alat yang rusak itu seperti hard disk yang berfungsi untuk penyimpanan gambar,” kata sumber yang minta namanya tidak dipublikasikan.

“Semangat saya untuk mengatakan ini semata-mata karena kasihan terhadap pasien jantung yang antreannya semakin panjang,” lanjut sumber tersebut.

Menurutnya, dalam kondisi alat berfungsi saja antrean pasien jantung bisa mencapai 3-6 bulan untuk dilakukan tindakan kateterisasi jantung.

“Bisa dibayangkan sudah berapa banyak antrean pasien setelah hampir dua bulan tak ada penanganan diakibatkan kerusakan alat,” ujar sumber itu lagi.

Pada bulan April lalu, katanya, ada dua pasien jantung dirujuk oleh RSUDZA ke Medan. Tetapi satu pasien meninggal dalam perjalanan dan satu pasien lainnya meninggal ketika sedang dalam penanganan medis di Medan.

Kendala kontrak service

Sumber lainnya mengungkapkan, sebenarnya alat cath lab beserta tim teknisi sudah ready di Medan atau Jakarta.

Akan tetapi terkendala eksekusi karena ketiadaan anggaran kontrak servis (pembayaran maintanance alat).

Sepengetahuan sumber itu, kontrak service alat dibuat per tahun dengan asumsi maintanance alat kateterisasi jantung sekitar Rp 1 miliar untuk servis dan pergantian alat yang rusak.

Akan tetapi untuk tahun 2022 tidak dibuatkan kontrak service alat kateterisasi jantung RSUDZA yang usianya sudah mencapai 10 tahun lebih namun masih digunakan sampai sekarang.

RSUDZA Banda Aceh sebenarnya memiliki satu unit alat kateterisasi baru namun alat tersebut merupakan kerja sama antara RSUDZA dengan perusahaan alkes yang berpusat di Medan.

“Menurut info yang saya dapat alat kateterisasi baru itu belum bisa digunakan karena belum keluar izin pengoperasian dari Bapeten, yaitu Badan yang menangani radiasi di Indonesia,” pungkas sumber yang minta namanya juga tidak ditulis.[]