Sensasi tak Terucap dalam Kenikmatan Kuah Beulangong Bang Pen

Bang Pen, dengan kesehariannya sebagai penjual nasi kuah beulangong di Warkop Nanggroe, Jalan Mr. Mohd. Hasan, Lueng Bata, Banda Aceh. (ACEHTIME.com/Murdani)

Laporan: Murdani/ACEHTIME.com

SERING kita mendengar candaan di kalangan penikmat kuliner yang menyebutkan rasa masakan (kuliner Aceh) hanya dua, “enak dan enak sekali.”

Candaan itu terkesan mengada-ada, tetapi faktanya memang demikian. Tak mengada-ada pula kalau kuliner Aceh bukan hanya bercitarasa nusantara tetapi dunia.

Testimoni kalau masakan Aceh bercitarasa dunia disampaikan oleh para jurnalis berbagai benua yang datang ke Aceh meliput dampak bencana gempa dan tsunami Aceh 2004.

“Ketika kembali ke negeri mereka, komunikasi dengan rekan-rekan wartawan lokal tetap terbangun. Rata-rata mereka (jurnalis lintas benua) terkesan dengan kuliner Aceh. Yang paling mereka ingat adalah ayam tangkap dan kuah beulangong,” kenang seorang wartawan senior di Aceh, Nasir Nurdin yang juga Pemred ACEHTIME.com.

Pengakuan serupa, lanjut Nasir juga disampaikan wartawan media nasional, seperti dari jaringan kerja Kompas Gramedia.

“Pascagempa dan tsunami, banyak kawan-kawan media nasional yang di-BKO-kan di Banda Aceh. Setiap hari, menu makan siang mereka kalau bukan ayam tangkap ya kuah beulangong. Sekarang pun, kalau mereka ke Aceh, tetapi mencari warung kuah beulangong atau ayam tangkap. Menurut mereka, kedua jenis masakan ini nikmat, sensasinya sulit terucap,” ungkap Nasir Nurdin, Ketua PWI Aceh.

Nah, kali ini fokus tulisan kita adalah tentang kuah beulangong. Lebih khusus lagi yaitu kuah beulangong olahan Rustam Efendi, laki-laki yang akrab disapa Bang Pen, penjual nasi dengan menu khas kuah beulangong daging kambing atau sie kameng.

Sehari-hari Bang Pen berjualan nasi dengan menu kuah beulangong sie kameng di Warkop Nanggroe, Jalan Mr. Mohd Hasan, Gampong Sukadamai, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh.

Bang Pen adalah satu dari puluhan bahkan mungkin ratusan penjual nasi kuah beulangong di Kota Banda Aceh dan kawasan Aceh Besar.

Branding “Bang Pen” sudah begitu akrab di kalangan pelanggan setianya yang terkesan tak pernah bosan menikmati menu khas warisan indatu Aceh ini. Buktinya, setiap hari wajah orang-orang yang sama singgah ke Warkop Nanggroe menikmati kuah beulangong Bang Pen yang aroma maupun citarasanya benar-benar menggoda selera.

Bang Pen, laki-laki kelahiran Montasik, Aceh Besar ini mengaku sudah 28 tahun menggeluti kuliner khas dari Aceh Besar tersebut.

Dalam sehari Bang Pen mengaku bisa menjual sebanyak delapan hingga 15 kg daging kambing yang dimasak dalam belanga besar. Harga yang dibandrol Bang Peng relative murah, Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per porsi.

Seorang pelanggannya, Nadia mengatakan, kuah belangong Bang Pen memiliki citarasa tersendiri. Selain harganya sangat kompetitif, rasanya juga cocok di lidah semua orang, tak terkecuali warga Aceh.

“Selain makan di tempat, kami juga siap melayani pesanan dari masyarakat untuk diantar ke rumah,” ujar Bang Pen dengan nada berpromosi, menjelang puncak kesibukannya melayani pelanggan, Kamis, 16 Juni 2022.

Tak terlalu berlebihan jika kita menabalkan sosok-sosok seperti Bang Pen sebagai pengawal kuliner warisan indatu. Usaha yang mereka jalankan tak sebatas obsesi cari untung secara materi. Lebih dari itu, mereka adalah duta penebar aroma khas kuliner Aceh ke masyarakat dunia, lintas benua. []