Sumur Tua Arun Itu Kini Milik Pema

Darmansyah


Ia teman lama. Teman yang sudah seperti keluarga. Karena saya pernah mondok di rumahnya ketika hinggap di Medan. Di jalan katamso ujung.

Namanya Brayen. Nama potongan. Yang masih ada ujungnya. Sinaga.

Anda tak perlu saya ajari asal dan usul nama itu. Tutup kitab ajalah.

Yang perlu lanjutannya. Dia lahir di Labuhan Batu. Besar di Medan dan untuk lanjutnya: kuliah di Bandung di jurusan perminyakan.

Setelah tamat melamar ke pertamina. Di terima. Tapi digoda salary gajah. Lantas resign. Berhenti. Dan bergabung ke mobil oil corporation yang bersalary gajah itu,

Case resign dari pertamina ini, ketika kami menjadi teman. sering saya goda. “Salary gajah masih mencari gajah semok lagi.”

Gaji di pertamina era itu kan sangat besar. Besaarr… sekali. Di ujung era Ibnu Sutowo. Era keemasan pertamina sebelum terjengkang oleh hembusan kasus korupsi.

“Di mobil oil lebih nyaman syedara,” tukasnya setiap kali saya ulang kasus kepindahannya ini.

Dan ia mengunci dengan panggilan syedara yang menyebabkan mulut saya terkunci. Laantas menyadari aliran paham saya: klas teri.

Kelas teri yang hanya bisa berandai-andai kalau ia terus berkarir di pertamina pasti jabatan tingkat direksi bisa jadi genggamannya.

Itu pikiran meugampong. Untuk aman. Safe. Itu maindset saya.

Walaupun berkarir di jurnalistik dan berteman dengan mereka yang bertitel segepok dan mewawancarai banyak petinggi negeri ini kalau soal kerja tetap dengan satu kata “aman.”

Bukankah itu juga yang menjadi maindset para syedara ketika bertanya tentang kerja aneuk keumeun. Ponakan yang a-es-en. Apalagi kalau disebut keureja di pertamina. Amannya pasti berlipat.

Malah disertai dengan amiinnn…. Yang panjang.

Tahu jawabnya kan! Nggak perlu diajarkanlah.

Di awal Juni lalu saya ketemu si Brayen di sebuah hajatan. Hajatan keluarganya. Di sebuah hotel. Ia minta saya jangan cepat hengkang. “Saya ingin bicara khusus dengan syedara,” harapnya.

Saya penuhi. Dan ia menggring saya ke sudut sebuah ruangan. Lantas duek pakat dimulai dengan hidangan steak.

“Temani saya ke Arun ya. Ke Lhok Sukon. Lewat Kuala Namu untuk kemudian naik mobil ke Aceh,” lanjutnya menembakkan kata-kata tanpa ada titik dan koma yang membuat saya tak berkutik.

Untuk kemudian ia kunci dengan pertanyaan lanjut: “Mau kan?”

Saya bengong. Masih bengong ketika mengiyakan ajakan, Dan bengongnya saya bawa pulang usai jadwalnya ia tentukan sendiri.

Nggak usah panjang mukadimahlah. Kami berangkat dari Soetta menjelang tengah hari  ujung pekan pertama Juni lalu. Ia mempersiapkan perjalanan.

Mulai dari tiket mobil jemputan di kuala namu, hingga bermalam di Santika Dyandra Medan di jalan kapten maulana lubis

Besoknya seusai shalat subuh langsung masuk toll Binjai-Medan dengan melewatkan makan pagi di warung soto deli kampung baru.

Dan plus Tanjung Pura-Kuala Simpang untuk makan pagi di warung soto  ma’nyah yang tak jauh dari terminal.

Di Kuala Simpang ini saya sempat mengenang seorang teman. Makmun Al Mujahid. Teman yang dulu sekali pernah menjadi wartawan di koran regional terbitan Medan.

Makmun yang adiknya Helmi dan ayahnya tokoh besar Husein Al Mudjahid.

Di Kuala Simpang juga saya pernah tinggal ketika kanak-kanak bersama adik ayah yang jadi kepala kejaksaan di awal tahun lima puluhan.

Usai menikmati soto ma’nyah kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan nyaman dengan fortuner. Yang kami duduk di bangku tengah. Melewati Langsa-Peureulak dan Panton Labu dalam cerita panjang

Cerita panjang hingga tiba di Lhok Sukon. Lhok Sukon yang Arun. Yang kini menjadi kota kabupaten Aceh Utara.

Dalam perjalanan hingga ke Lhok Sukon itu kami bersilancar dalam haba panjang. Haba panjang tentang karir sang teman. Hingga sampai ke Texas sana. Karir ketika ia lama menjadi “buruh” bergaji dollar di Arun.

“Buruh” yang berakhir pekan ke Medan lewat flight khusus dari lapangan terbang di Arun. “Buruh” yang cutinya ke Singapura dan bisa ke Eropa.

Saya hanya mendengarkan. Mendengar tentang bonus dan tabungan pensiunnya bisa menyekolah cucu. Dan bisa membayar tiket, hotel dan perjalanan saya.

Perjalanan nostalgia untuk mengenang banyak kejadian. Kejadian yang menimpa negeri indatu yang soh ketika gas dari sumur di ladang-ladang Arun mongering. Negeri ini meratap dengan stemple miskin.

Perjalanan itu juga mengungkit tentang awal persahabatan kami. Persahabatan ketika saya mendatanginya  ke Arun sebagai reporter media Jakarta kala blow up sebuah sumur gas

Yang dijinakkan oleh seorang pekerja hebat Bill berbulan-bulan.

Penjinak blow up yang khusus didatangkan dari Texas. Yang apinya bisa padam lewat penyuntikan bahan padat ke mulut sumur lewat  mata bor dengan lubang menyamping.

Kami bercerita juga tentang pemadaman yang lain oleh tentara khusus dari Jakarta terhadap pemberontakan Aceh. Pemberontak yang berang dan memotong jalur pipa di Landing hingga Cot Girek.

Mereka berang karena negerinya di dijadikan sapi perah yang susunya di minum dengan kenikmatan dollar di pusat negara. Dan menamai perlawanan ini dengan gerakan aceh merdeka.

Perlawanan yang tak pernah selesai. Kenyal dan liat yang disemangati eleganitas Aceh. Tak mampu dipadamkan dengan kekuatan  senjata. Yang kemudiannya diakhiri dengan kesepakatan deuk pakat  di Stockholom, Swedia.

“Itu sejarah kelabu,” kata sang teman yang tahu berapa jumlah kubik gas bertebaran di banyak sumur blok nort sumatera be itu.

“Negeri Anda kaya. Tapi apalah saya seorang…,” katanya sedikit agak tersendat.

Tersendat karena tahu dihari kami datang ke Arun sudah banyak yang berubah. Lokasi yang menjadi komplek mobil oil sudah bersalin rupa dengan perkantoran pemerintah.

Kami menelusuri jalan penghubung. Menuju ke kawasan kompleks tempat pipa masih terpasang. Dia bergumam. “Aliran gasnya tinggal cepek. Sumur-sumurnya sudah mongering,”

Saya mengangguk. Tahu semuanya dari bacaan. Mengering dan sudah diterbangkan oleh angin langit Osaka dan angin Los Angeles lewat pabrik-pabrik besar.

Pabrik besar yang turbinnya tidak hanya diputar dari gas alam tapi juga oleh condensate sebagai produk sampingan dari ladang gas Arun. Ladang yang pernah menyandang predikat terbesar di dunia.

Yang pabrik besar yang gas alam cair dan kondensat  olahannya di blang lancang. Gas alam cair dan condesat yang diisikan ke kapal-kapal berbentuk bulat  buncit atas nama ekspor.

Blang lancang yang diresmikan pengapalannya oleh Pak Harto ditahun seribu sembilan ratus tujuh puluh delapan.

Blang Lancang, dulunya, sering saya datang tapi nggak dizinkan menjenguk isi dalam pabrik. Blang lancang yang saya boleh milih nginap di guest house-nya atau di resort pinggir pantai

Tempat nginap yang saya pilih di resort setiap kali datang. Untuk bisa berpapasan dengan bule maupun istrinya di café atau ruang makan.

Yang kemudiannya memanjakan mata dari bangku-bangki dikerindangan pohon kelapa untuk memoloti pantai melihat si bule dan istri berenang memakai cawat.

Untung saja negeri ini belum berhukum perda syariat kala itu. Yang kalau untuk sekarang bukan hanya si bule yang digiring. Penontonnya juga ikut naik mobil pickup weha.

Blang lancang juga menjadi kenangan saya ketika bertemu pak JA Okun yang general manajernya, Atau Endin yang manajer humas.

Atau Azhari Ali yang stafnya, plus Sayed Mudhahar Ahmad, yang selalu memberi tawaran untuk menginap di rumahnya. Di komplek perumahaan Arun yang sekarang kondisinya berantakan.

Saya tersesat ke blang lancang. Padahal saya dan teman sedang berhenti di luar pagar pipa gas yang dia tahu mobil oil memulai kontrak bagi hasil  di september lima puluh lima tahun silam.

Ia juga tahu blok be itu pernah mencapai puncak produksi hingga  tiga ribu empat ratus em-em-es-ce-ef-de dan mencatat diri  sebagai kontributor dalam sejarah kejayaan industri migas dunia

Saya hanya melongo. Tak tahu hitungan em-em kubik. Angka yang nggak ketemu di kamus poerwadarminta.

Yang saya dengan blok be itu sudah sudah berakhir pengolalaanya oleh mobil oil. Mobil yang kemudiannya berganti nama exxonmobil. Blok gas ini  seharusnya berakhir empat tahun lalu tapi lewat kebijakan anorganik, pertamina mengakuisi seratus persennya secara gratis

Blok yang kami dengar dari pekerja lapangan, dihari kedatangan itui, sudah beralih ke Pt pema global energi. Badan usaha milik daerah. Yang akronimnya pe-ge-e.

Blok yang dikatakan sang teman, yang dulu ikut sebagai tenaga perawatnya, relatif tua. Sumur yang isiannya cuma tinggal cepek. Seperti juga yang saya dengar dari obrolan sang teman ketika menyapa teman lamanya.

Tentang nasib  kelanjutan pengelolaan blok yang sempat jadi perdebatan antara kementerian e-es-de-em dan pertamina untuk memperpanjang kontrak dengan skema gross split.

E-es-de-em hanya memberi perpanjangan kontrak ‘tahunan’ ke pertamina dan pemda Aceh nggak setuju perpanjangan pengelolaan menggunakan gross split

Pemda lebih memilih cost recovery. Saya nggak tahu siapa consultan di sini. Kalau disana saya tahu. Mereka ngerti tentang dua perhitungan itu.

“Pemerintah aceh tetap minta cost recovery”

“Kita ajukan pilihan kala itu. Gross split dan cost recovery, ya bagaimana baiknya aja lah, kita sih inginnya seperti itu,” kata seorang teman kongkow sang teman yang ia minta pendapatnya.

Lantas e-es-de-em memperpanjang pengelolaan pertengahan november dua tahun silam.

Pemerintah menekankan bentuk kerja sama harus diperjelas terlebih dahulu agar tidak mengganggu investasi di wilayah kerja tersebut.

Selaku kontraktor blok tersebut pertamina  ngerti. Itulah yang ideal menurut mereka. Pertamina sendiri agaknya suka-suka  aja dengan gaya cost recovery.

Cost recovery lebih menguntungkan bagi masyarakat, sementara gross split dianggap kurang, terutama terkait kontrol pemerintah daerah terhadap pengelolaan blok migas.

Lantas saya numpang tanya dengan teman. Apakah blok ini sudah jadi milik Aceh.

“Ya sudah,”katanya.

“Sumur tua,” tanya saya lagi. Ia ketawa ketika kami naik mobil menuju jalan pipa. Sekaligus bisa melihat pabrik pengilangan gas di Blang Lancang. Yang trainnya sudah mengganggur dan akan diubah fungsinya.

Diperjalanan ke Blang Lancang ia kembali berbisik ke saya. “Itu perusahaan milik negeri Anda akan menjadi kontraktor dengan jangka waktu kontrak dua puluh tahu.” ujarnya

“Pema global energi?” sahut saya. Ia diam. Saya mengartikan diam itu tanda benar. Kalau nggak tentu ia bantah. Kan diam itu emas menurut petitih.

Saya tahu tentu ada “pesta” bicara para petinggi di negeri saya. Pesta yang pernah saya dengan beberapa waktu lalu

Pakai kata torehan sejarah. Karena sumur yang mulai mengering sah menjadi milik pemerintah aceh. Bukan rakyat aceh. Yang diharukan dengan kata terima kasih atas do’a seluruh rakyat Aceh..

Itu kata petinggi negeri saya. Yang senangnya tak terbayangkan. Mendapatkan blok en-es-be secara mandiri setelah setelah empat puluh lima tahun wilayah kerja itu beroperasi.

Blok ini terdiri dari tiga lapangan gas di darat yang aktif berproduksi, yaitu lapangan Arun dengan empat puluh empat sumur,

Masih ada lapangan lain. South Lhoksukon dengan sepuluh sumur. Produksi gas ya kecil disertai kondensat.

Saya dan teman bagaimana proses pengalihan ini berjalan.

“Banyak aspek yang harus dilewati hai syedara,” katanya. Ia tahu itu karena ia juga masih jadi consultan perminyakan.

Macam-macamlah., Dari aspek subsurface, operasi produksi, project and facility engineering, operasi ka-tiga-el-el, sumber daya manusia, finansial, komersial, asset and supply chain management serta information and communication technology.

Saya sendiri pusing dengan istilah ini. Hanya bisa memahami apakah anek nanggroe mampu mengelolanya secara berkelanjutan. Mampu untuk memanfaatkan nilai tambah bagi industri serta masyarakat sekitar.

Jangan-jangan menambah mudharat.

Sebab mudharat itu bisa datang tindaklanjut kerja keras. Pasalnya, produksi gas bumi dari blok en-es-be sebagian harus digunakan untuk operasional produksi. Sebesar lima puluh persen.

Sebelum kami berpisah dari Arun, Landing, Sampoinet dan Blang Lancang dan menuju Wisma Kuta Karang, di sore itu, sang membisikkan saya sebuah kalimat penutup.

“Apakah negeri Anda berani berinvestasi di ladang tua itu.”

Mustahil tanpa investasi dan komitmen ladang tua itu terrawat dan berkembang.

Dan jangan mimpi dengan menjadi pemilik sumur tua akan meraih sebutan negeri petro dollar.

Saya tak bisa berkata-kata. Hanya bisa berbisik mengingatkan banyak rakan untuk bisa senyap dalam kerja keras. Bukan mengumbar haba …

Haba berbau “mbong.”

  • Darmansyah adalah penulis “Kolom Bang Darman.” Artikel serupa tayang di Nuga.co.