Sir!! Selamatkan Persiraja…

Darmansyah

PERSIRAJA turun kasta. Dari liga satu ke liga dua.

Anda dan saya sudah tahu itu. Sudah diberi tahu oleh klasemen liga di empat bulan lalu.  Ketika klub “lantak laju” itu mentok di angka tiga belas poin. Padahal, saat itu, masih tersisa lima laga.

Pemberitahuan itu datang dari kalkulasi poin yang tidak bisa dimanipulasi. Selisih poin plus jumlah perolehan maksimalnya jika memenangkan semua pertandingan sisa.

Poin yang dibanding dengan Barito Putera di posisi lima belas. Yang merupakan batasan tim yang bisa bertahan di liga satu. Persiraja masih ketinggalan enam belas angka.

Wuuss..palu udah diketok. Takdir telah ditentukan. Persiraja hanya takdir degradasi ke liga dua bersama Persela Lamongan dan Persipura Jayapura. Itu aturan liga. Tiga tim buntut turun kasta.

Itu yang Anda dan saya tahu. Tahu Persiraja sudah di liga dua.

Yang Anda dan saya tak tahu, mungkin, sekali lagi mungkin—adalah: apakah Persiraja akan lebih turun lagi. Ke liga tiga dalam hitungan hari. Tiga hari mendatang. Usai pendaftaran liga dua tutup buku.

Tutup buku pendaftaran tanggal sepuluh Agustus. Hari Rabu mendatang. Yang sampai pagi tadi Persiraja belum mendaftar. Kalau ini terjadi tamatlah klub “rencong aceh” itu dari peta sepakbola elite Tanah Air.

Tamat karena ndak lewat laga. Tamat lewat undang-undang liga. Dalam hitungan hari. Bukan hitungan musim. Kalau pun itu terjadi marilah kita berkabung. Berkabung atas dosa “pembunuhan.”

“Pembunuhan” oleh kejahilan pemiliknya. Yang mencampakkannya di “tong sampah.”  Innalilillahi…

Untuk itu, malam tadi, saya menelepon legenda hidup Persiraja. Nasir Gurumud.

Legenda ketika ia menjadi seorang pelaku sejarah kehebatan Persiraja memenangkan laga perserikatan “enam besar” PSSI mengalahkan Persipura Jayapura tiga gol berbanding satu gol di pertandingan final.

Blass… “lantak laju” juara. Sejarah mencatatnya dengan tinta emas.

Tinta emas yang digoreskan di tanggal tiga puluh satu Agustus Seribu Sembilan Ratus Delapan Puluh. Di Gelora Bung Karno-gbk.

Tidak hanya Nasir Gurumud yang terus mengenang sejarah itu. Saya dan banyak orang masih seperti “transed” mengingatnya.

Mengingat ketika saya ada di pinggir lapangan dengan kamera “nikon” telezoom mengklik gol Bustamam dan Rustam Safari. Subhanallah kenangannya.

Kenangan bonden dengan permainan taktis dan kerasnya. Yang sulit dikalahkan di laga kandang dan tandang. Terkenal angker bagi tim-tim lawan.

Tidak hanya angker di lapangan tapi juga di luar lapangan. Angker dari dukungan suporter berlabel skull-suporter kutaradja untuk lantak laju.

Label yang kemudiannya ditabalkan sebagai perseroan ketika perserikatan di PSSI bermutasi ke liga.

Perseroan terbatas liga yang anggotanya bonden-bonden dengan nama liga satu, liga dua dan liga tiga.

Untuk kemudian kompetisinya diberi nama Liga BRI. Karena sponsorship Bank Rakyat Indonesia.

Tulisan ini bukan untuk sebuah kenangan tentang Persiraja. Ataupun sebuah informasi tentang liga. Saya keliru memulainyanya.

Maaf…..

Tulisan ini dasarnya ingin fokus tentang Persiraja yang sedang menghadapi krisis dan berada di hari-hari kritis usai sang presidennya mundur. Mundur seperti presiden Gotabaya Rajapaksa di Srilanka. Mundur meninggalkan kekacauan dan kesemrautan.

Tinggalkan saja krisis dunia itu. Saya hanya ingin menulis krisis kecil. Krisis tim sepakbola milik Banda Aceh yang masih memakai nama “raja.” Nama lama Koetaradja. Tim sepakbola Persiraja. Perserikatan Koetaradja.

Krisis ini bukan karangan saya. Bukan kata saya. Tetapi kata presidennya. Presiden Persiraja. Namanya Nazaruddin. Dipanggil Dek Gam. Ia sendiri yang meuhambo-kan haba.

Hambo haba ini sudah lama bersemayam di perserikatan ini. Akibat kalah-kalah lagi dan kalai lagi. Menangnya hanya… dan serinya juga hanya… Andalah yang tahu tentang kalah menang dan seri ini.

Yang saya tahu Persiraja tercampak ke liga dua usai melintas selama satu musim di liga satu.

Kondisi dan situasi yang sama tapi tidak sebangun. Bangunannya beda. Di Srilanka bangunannya negara. Ada presiden, kabinet, parlemen dan rakyat. Di demo. Berhari-hari. Berbulan-bulan lantas tumbang.

Rajapaksa mundur. Hengkang ke luar negeri. Meninggalkan carut marut kondisi sosial politik.

Di Persiraja mundurnya sang presiden, bernama Nazaruddin-disapa Dek Gam- hanya di sebuah klub. Klub liga dua pssi. Usai turun kasta. Seperti tulisan awal saya.

Dek Gam mundur tanpa demo. Mundur lewat pernyataan di sebuah podcast media. Media yang ndak mengejar alasan mundur, nasib perseroan, bagaimana posisi saham kepemilikan.

Banyaklah lainnya. Blaa…blaa … dan terakhir apakah mundurnya itu lewat rapat umum pemegang saham-rups? Apakah ada penawaran saham ke partner. Berapa harganya.

Saya ndak tahu itu. Yang saya tahu tak ada rups dan bagaimana posisi delapan puluh persen saham yang masih menjadi milik si Dek Gam.

Saya miris dengan krisis Persiraja yang didramatis oleh Dek Gam dalam podcast di media tersebut.

Lantas?

Itulah alasan saya menelepon Nasir Gurumud. Di jula malam. Setelah saya minta advis ke anak seorang teman presiden sebuah klub hebat di liga satu. Anak teman yang menyarankan saya bertanya ke orangnya di pssi. Ke pt liga.

Yang saya dapat kepastian bahwa Persiraja kritis di pedang waktu. Tiga hari mendatang. Kalau ndak mendaftar kesiapannya berlaga di liga dua.

Liga dua yang gerbongnya juga dua. Barat dan timur. Dua puluh delapan klub. Di bagi dua. Empat belas di barat dan empat belas di timur.

Nasir Gurumud saya recoki. Saya rangsang birahi memorinya sebagai legenda. Saya labeli dia sebagai motor penyelamat. Banyak kata yang saya tumpahkan. Sentimentil, rasional bahkan emosional.

Semua ia jawab dalam dua kata: “siaapp… bang”

Terima kasih Sir. Lakukan dan kerjakan yang terbaik untuk Persiraja.

Tidak hanya dengan Nasir Gurumud saya memancing jawab. Dari seorang teman di balaikota, subuh tadi, saya bercas-cis. Kata pembuka isiannya: maaf mengganggu kenyamanan tidur.

Saya tahu dia sedang terlelap ketika dering di handphone-nya datang. Dering dari nama tercoreng di layar hapenya  saya tahu membuatnya mengerenyit. Saya juga tahu dengan mata masih sipit ada aliran darah akar otaknya berdenyit.

Maaf juga untuk Pak Iskandar… yang staf ahli di balaikota. Iskandar yang tempat saya menumpahkan kemumetan tentang krisis dan situasi kritis Persiraja. Yang responnya saya anggap luar biasa. Padahal saya tahu ia seorang pejabat mumpuni yang bisa saja membiarkan Persiraja “tamat” di peta liga dua.

Apa kepentingannya. Persiraja bukan proyek dan tidak bisa diproyekkan. Terima kasih Pak Is…

Pak is yang mengabarkan kepada saya tentang adanya rapat di balaikota untuk mengatasi kekritisannya. Rapat yang mentok karena tidak hadirnya pemegang delapan puluh persen saham. Saham milik Dek Gam.

Balaikota hanya punya dua puluh persen. Kalah suara. Kalah setoran duit di awal pembentukan perseroan. Perseroan yang dulunya inisiasi Aminullah Usman. Sang walikota yang sudah resign. Aminullah yang siapapun tahu mertua dari Dek Gam.

Pak Is, begitu sang pejabat disapa, berterus terang nasib Persiraja sedang berada di persimpangan. Perlu amputasi untuk menyelamatnkannya. Amputasi rups. Yang keputusannya bisa Senin besok atau selasa dan rabu.

Usai hari-hari itu “dead”

Dan Pak Is secara tersirat mengatakan, masih ada hari. Saya ndak tahu cerah, bersinar atau mendung lantas hujan turun. Hujan derita.

Saya juga tahu kalau semua itu amblas… masih ada yang namanya kejutan. Kejutan Persiraja selamat dari predikat tarkam di liga tiga. Selamat dari bangkrut dalam artian sebenarnya.

Di ujung percakapan yang emosional dengan sang pejabat, saya menitipkan pesan: jangan pikirkan pendanaan, pemain, pelatih dan kesiapan tim. Selamatkan dulu. Pikirkan setelah itu.

Sebab yang belakangan ini masih ada waktu hingga dua puluh lima Agustus. Hari treng liga dua berputar.

Liga yang nantinya mengelompokkan Persiraja bersama PSMS Medan, PSDS Deli Serdang dan Sriwijaya FC, menyebut sedikit nama elite dulunya yang juga pernah mengalami turun kasta.

Dengan adanya keseriusan banyak orang ingin menyelamatkan Persiraja, saya bisa melupakan kisruh berita media hari-hari sebelumnya. Mainstream dan online. Bahkan medsos yang chattingnya, ampun ramainya.

Kisruh tentang kepastian siapa yang bakal mengurus klub “rencong aceh” itu. Yang tak jelas  apakah ikut kompetisi liga dua musim ini atau tidak.

Berita yang juga optimisme dari sang pejabat walikota yang mengajak semua elemen masyarakath untuk duduk bersama. Menyelamatkan Persiraja.

Tidak ada istilah lepas melepas, melainkan harus duduk bersama karena Persiraja milik semua rakyat Aceh. Dan besar harapan agar semuanya menanamkan rasa memilikinya. []

  • Darmansyah adalah penulis *Kolom Bang Darman”. Artikel serupa tayang di Nuga.co.